Friday, November 28, 2014
Anonymous
Tips Pengereman Sepeda Motor dari JDDC
Minimnya pengetahuan serta pelatihan berkendara sepeda motor yang baik bagi para pengendaranya, memicu tingginya angka kecelakaan.
Bahkan, beberapa pengendara merasa sangat beruntung jika dirinya memiliki keahlian serta keterampilan safety riding yang didapat dari pelatihan. Setidaknya, ilmu teori dan praktik safety riding, bisa menjauhkan dari kecelakaan.
Mencoba mengurangi tingginya angkat kecelakaan tersebut, Forum Wartawan Otomotif (Forwot) dengan Jakarta Defensive Driving Consulting (JDDC), Minggu, (15/7), menggelar pelatihan safety riding. Selain untuk bisa diterapkan oleh peserta, panitia penyelenggara berharap, teori dan pelatihan tersebut bisa disebarluaskan kepada para pengendara lain oleh peserta yang terdiri dari para jurnalis dan komunitas club motor.
Salah satu teknik dalam safety riding adalah pengereman — cara untuk memperlambat roda. Bayangkan, jika teknik pengereman ini tidak benar dilakukan pengendara. Akibatnya bisa fatal.
Berikut tips safety riding yang dipimpin oleh kepala instruktur Jusri Pulubuhu dari JDDC, mengenai teknik pengereman:
Pada kecepatan rendah (walking speed) di bawah 30-40 km/jam
1. Postur tangan menekuk dengan sudut 130 derajat. Bobot tubuh bagian bahu ke atas ditahan oleh otot trisep/tiga jari (bagian samping luar telapak tangan). Kedua kaki bagian lutut membekap tangki atau ujung jok. Jari-jari tangan kanan jangan diletakan di tuas rem, karena bisa membahayakan handling pengendara jika ada sesuatu tak terduga di depan pengendara. Jari-iari akan spontan meremas tuas, dan kondisi ini bisa membuat roda depan terkunci sesaat sehingga Anda terpeleset.
2. Tutup putaran gas, diikuti dengan menginjak pedal rem belakang secara halus. Jika diperlukan, bisa dibantu dengan meremas tus rem bagian depan.
3.Untuk menjaga keseimbangan putaran mesin dan saat rpm turun mendekati angka 1.000, segera remas tuas kopling dan lakukan shift-down alias menurunkan gear transmisi
4. Saat kecepatan mendekati 0 km/jam (nyaris terhenti) kaki kiri siap-siap diturunkan (bukan kaki kanan)
Pada kecepatan tinggi, seandainya pada kecepatan konstan 80 km/jam tiba-tiba kendaraan harus berhenti mendadak sebelum garis objek. Dengan perhitungan, kendaraan mampu untuk berhenti. Berikut tipsnya:
1. Postur tangan menekuk dengan sudut sekitar 130 derajat. Bobot tubuh bagian bahu ke atas, ditahan oleh otot triceps/tiga jari (bagian samping luar telapak tangan). Bagian lutut kaki membekap rapat tangki atau ujung jok. Posisi tubuh cenderung akan mengarah ke belakang jika gaya inersia (istilah fisika, materi yang menentang perubahan keadaan gerak benda materi) terasa semakin besar, seiring menurunnya kecepatan yang melambat.
2. Tutup putaran gas, diikuti meremas tuas rem depan seperempat (1/4) tekanan secara halus dilanjutkan dengan menginjak/mengaktifkan rem belakang. Lanjutkan kedua pengereman tersebut dengan remasan dan tekanan yang lebih besar.
3. Jika keadaan belum memungkinkan dalam perlambatan rem tersebut, pindahkan gigi transmisi/perseneling ke gigi yang lebih rendah secara bertahap hingga perlambatan kecepatan terkontrol.
4. Jika garis berhenti semakin dekat, sedang laju kendaraan masih tinggi, remas lever rem depan sekitar 70% lebih kuat dibandingkan dengan injakan rem belakang.
5. Untuk menyikapi agar kedua ban tidak terkunci, lakukan kedua pengereman dengan cara squeeze (remas-lepas-remas-lepas sebagaimana cara kerja rem ABS).
6. Untuk menjaga keseimbangan putaran mesin saat turun mendekati 1.000 rpm, segera remas tuas kopling dan shift down.
7. Saat kecepatan mendekati 0 km/jam (nyaris berhenti) kaki kiri siap-siap untuk diturunkan (bukan kaki kanan).
Sumber >>>










