Headlines
Wednesday, January 21, 2015
Anonymous

Para Guru Ini Berkata Jujur Soal Perilaku Mereka

edo stc bdg 2015
BANYAK yang tabu untuk mengakui kekeliruan yang pernah dilakukan. Ada rasa malu yang tak terhingga jika ‘aib’ itu mengembara kesana kemari.
Situasi berbeda justeru saya temui di hadapan para guru atau para pengajar di Kota Bandung, Jawa Barat. Mereka yang mengajar di sekolah dasar (SD) dan sekolah menengah pertama (SMP) itu sempat berdialog dengan saya di Workshop Road Safety in Schools yang digelar Save The Children (STC), di Hotel Scarlet Dago, Bandung, Selasa, 20 Januari 2015 pagi. Mereka mengungkapkan secara jujur perilaku mereka terkait keselamatan jalan.
Ajang yang digelar dua hari itu 20-21 Januari 2015 menjadi pintu masuk untuk mengajak para pengajar di sekolah untuk membangun sistem sekolah berkeselamatan jalan. “Besok, Rabu, 21 Januari 2015 ini kami juga akan membuat kegiatan serupa dengan para kepala sekolah,” papar Agnes, salah satu aktifis STC, saat berbincang dengan saya, Selasa pagi.
Lantas, apa ‘aib’ para guru itu?
“Ada guru yang naik sepeda motor dengan membawa dua anak didik di bawah umur,” kata seorang guru peserta workshop.
Guru yang lainnya bercerita, “Guru tidak memakai helm dan sambil merokok saat mengendarai motor. Bahkan, ada yang tidak memakai seat belt saat mengendarai mobil.”
Bukan itu aja. Ini ada lagi. “Ada guru yang tidak memakai helm dan berponsel sambil naik motor, serta melanggar marka jalan,” ujar seorang guru perempuan.
Ya. Secara bertubi-tubi para guru itu membeberkan apa yang dilihatnya dalam keseharian. Perilaku-perilaku yang terang-terangan melanggar aturan jalan. Ungkapan secara jujur itu terlontar manakala mereka diminta untuk menyampaikan apa yang dianggap keliru dan bisa memicu kecelakaan di jalan.
Guru yang semestinya menjadi panutan para anak didik justeru mempertontonkan adegan yang memprihatinkan di jalan raya. Padahal, kata pepatah, “guru kencing berdiri, murid kencing berlari.”
Pagi itu workshop digelar untuk mencari tahu bagaimana peran sekolah dalam mewujudkan keselamatan jalan. Selain itu, tentu saja dilengkapi bagaimana berkendara yang aman dan selamat. Para guru SD dan SMP yang hadir dari berbagai sudut Kota Bandung. Kota yang dihuni tak kurang dari satu juta sepeda motor itu memiliki kondisi lalu lintas jalan yang tergolong memprihatinkan. “Pada 2014, kasus kecelakaan melonjak hingga 85% jika dibandingkan tahun 2013. Tapi, untuk fatalitasnya turun walau jumlah penurunannya tipis,” papar Adjie, wakil kepala Satuan Lalu Lintas Polrestabes Bandung, saat berbincang dengan saya Selasa pagi di tempat yang sama.
Dalam dialog saya kemukakan soal pentingnya para guru menjadi panutan para siswa. Guru memberikan contoh yang baik soal berkendara yang aman dan selamat. Selain itu, guru beserta perangka sekolah juga sebaiknya membangun budaya keselamatan berlalu lintas jalan. Salah satu caranya dengan membangun sistem sekolah yang berkeselamatan jalan. Misalnya, tidak mengizinkan siswa membawa kendaraan pribadi ke sekolah, khususnya mereka yang masih di bawah umur. Selain itu, mengajak para orang tua berinteraksi dengan melakukan monitoring yang intens agar menciptakan iklim kondusif bagi sang anak. Lewat peran orang tua yang peduli dan tidak permisif diharapkan mampu memangkas fatalitas kecelakaan lalu lintas jalan.
anak 9 alasan berkendara
Indonesia punya persoalan serius soal keselamatan anak di bawah umur. Data memperlihatkan bahwa sepanjang 2010-2013 sedikitnya 142 ribu anak di bawah umur yang menjadi korban kecelakaan di jalan. Selain itu, sedikitnya 24 ribu anak di bawah umur yang menjadi pelaku kecelakaan lalu lintas jalan.
Bebasnya anak-anak di bawah umur wira-wiri di jalan tak bisa dilepaskan dari permisifnya orang tua memberi izin kepada sang anak. Apa pun dalihnya, memberi izin anak di bawah umur untuk berkendara di jalan raya adalah tindakan spekulatif dan melanggar aturan yang berlaku saat ini, yaitu Undang Undang No 22/2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ).
Ketika fakta memperlihatkan bahwa sektiar 42% pemicu kecelakaan adalah perilaku tidak tertib, kita semua mesti introspeksi. Jangan-jangan perilaku seperti itu tertanam sejak dini, tak hanya di sekitar keluarga, tapi juga dirintis mulai di bangku sekolah. “Karena itu, program kami ini adalah investasi perilaku, ingin mengubah mentalitas anak-anak di bawah umur agar kelak memiliki kepribadian yang kuat, peduli soal keselamatan jalan,” kata Agnes.

PENULIS

Anonymous 10:00 PM .

Anonymous on 10:00 PM. . .

0 komentar for "Para Guru Ini Berkata Jujur Soal Perilaku Mereka"

Leave a reply

Mohon komentar anda tidak boleh mengandung unsur:

1. Penghinaan, pelecehan, pornografi atau unsur SARA lainnya.
2. Spamming (spamming content).
3. Link aktif, teks anchor ataupun sejenisnya.

Terima kasih telah memberikan komentar pada Website Deppora PP Senkom ini.

SILATURRAHIM




How do you make your own avatars?

https://2.bp.blogspot.com/-99omDMXhrBY/V_YTDYKqPCI/AAAAAAAACg0/HYfxJH25g6ktrdnNH6wfad9r6Ul67QTZwCLcB/s1600/logo%2B7GEAR%2BCUTTING%25281%2529.jpg ="http://7gear-road.com/ID/produk/tourzero-tankbag-z2/"